makalah rasional emotif

makalah rasional emotif
untuk melihatnya silahkan klik disini

Dipublikasi di Tak Berkategori | 7 Komentar

Riset (Zakaria Yahya)

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1     Latar Belakang Masalah

Belajar adalah suatu aktifitas dimana terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal. Menonton televisi yaitu aktivitas melihat siaran televisi sebagai media audio visual dengan tingkat perhatian tertentu. Yang terkadang tingkat perhatiannya sangatlah berlebihan. Seseorang sampai tega meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menonton televisi.

Televisi sudah membuat para pelajar melupakan kewajibannya yaitu belajar karena banyak sekali pelajar yang memilih untuk menonton televisi dibandingkan membaca buku. Mereka bukan menonton berita yang bisa menambah ilmu pengetahuan umum tetapi malah menonton gosip, kartun dan sinetron. Menonton televisi membuat pelajar menjadi bermalas-malasan.

Sebagai masyarakat yang peduli terhadap lingkungan sekitar khususnya pelajar, penulis menginginkan pelajar-pelajar yang berprestasi dan dapat mengetahui yang mana yang harus dilakukan terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan, pelajar-pelajar inilah yang akan memimpin negeri ini nantinya. Mereka harus belajar lebih keras lagi untuk menjadi pemimpin masa depan yang baik untuk Indonesia. Pelajar yang tahu yang mana yang penting antara belajar dan menonton televisi.

 

1.2     RUMUSAN MASALAH

Apakah menonton televisi memberikan efek yang sangat berarti kepada keinginan para siswa untuk belajar?

 

1.3     TUJUAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar dampak menonton televisi kepada para siswa SMA. Dan sekaligus menjadi bahan untuk perbaikan mutu pendidikan kedepannya.  Hal-hal yang menjadi penyebab utamanya yaitu efektifitas, efisiensi dan standarisasi pendidikan yang masih kurang dioptimalkan. Jadi, yang dibutuhkan sekarang yaitu meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara mengurangi jam siswa untuk menonton televisi, agar kualitas pendidikan semakin meningkat..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN TEORI

 

2.1     DESKRIPSI TEORETIK

2.1.1    Definisi Televisi

Televisi merupakan alat elektronik yang di gunakan untuk menghibur masyarakat melalui acara-acara yang ditayangkan setiap waktu. Televisi ditemukan karena dasar penemuan hukum Gelombang Elektromagnetik oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.

Pada tahun 1873 seorang operator telegram menemukan cara untuk mengubah cahaya kedalam arus listrik dengan bantuan fotosel silenium (selenium photocell)
pada tahun 1884, Paul Nipkow di Berlin, Jerman menemukan piringan metal kecil berputar dengan lubang-lubang didalamnya dan hal ini merupakan cikal bakal dari lahirnya televisi.

Sekitar tahun 1920 John Logie Baird dan Charles Francis Jenkins menggunakan piringan karya Paul Nipkow untuk menciptakan suatu sistem dalam penangkapan gambar, transmisi, serta penerimaannya. Pada tahun 1923 Vladimir Kozma Zworykin, mendaftarkan paten atas namanya untuk penemuannya, kinescope, televisi tabung pertama di dunia. Keterbukaan Zworykin pada kritik, membuatnya menemukan penemuan baru lagi yaitu sebuah kamera tabung yang diberi nama iconoscope. Dialah yang kemudian disebut sebagai Sang Penemu Televisi. (1889-1982).

(http://www.engineeringtown.com/kids/index.php/penemuan/96-sejarah-ditemukannya-televisi).

2.1.2    Fungsi Televisi

     Televisi berfungsi sebagai media pemberi informasi, mendidik dan menghibur. Televisi yang diketahui sebagai media pemberi informasi memang lebih baik dibandingkan media masa lainnya seperti koran, majalah, tabloid dan radio. Karena televisi memberikan informasi secara audio dan visual yang mana lebih mudah diserap oleh manusia. Dan dari segi efeknya, televisi memberi efek yang lebih di bandingkan media masa lainnya.

2.1.3    Dampak Televisi

Menonton televisi dapat membawa dampak baik dan buruk bagi penontonnya. Apapun acara yang ditontonnya.

– Sisi Positif :

  1. a) Menambah ilmu pengetahuan.
  2. b) Membantu mempermudah memahami suatu berita karena kebanyakan dari siswa dapat menerima informasi secara visual.
  3. c)  Membuat para siswa berpikir lebih kritis.
  4. d)  Sebagai sarana
  5. e)  Mengetahui perkembangan dunia.

– Sisi Negatif :

  1. a)  Kurangnya waktu belajar karena terlalu lama menonton televisi.
  2. b)  Berkurangnya konsentrasi.
  3. c)  Mengurangi kemampuan mengingat verbal.
  4. d)  Mengurangi minat belajar.
  5. e)  Mengurangi semangat belajar.
Dipublikasi di Tak Berkategori | 12 Komentar

Laporan Hasil Observasi (Zakaria Yahya)

PENGELOLAAN SATUAN PENDIDIKAN

Laporan Hasil Observasi

SMP N 5 ADIWERNA

Logo_UPS.jpg

Oleh :

Nama   : Zakaria Yahya

NPM   / Kelas : 1114500104 / 4 B – BK

Digunakan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah

Pengelolaan Satuan Pendidikan

Dosen  Pengampu : Dr. Sitti Hartinah, DS

 

 

BIDANG STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL

2016

 

PRAKATA

Puji syukur penyusun kami panjatkan kepada hadirat Allah Subhanahu wata΄ala, karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan Makalah Laporan Observasi Sekolah di SMP Negeri 5 Adiwerna, dan shalawat serta salam penulis panjatkan kepada Nabi Mhammad SAW yang kita nanti-nantikan di hari akhir yaumul kiamat..
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga Makalah Laporan ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya, pertama kepada Dr. Sitti Hartinah selaku dosen pembimbing mata kuliah Pengelolaan Satuan Layanan Pendidikan yang selalu membimbing kami. Yang kedua penulis ucapkan terimakasih kepada orang tua yang telah membantu penulis dalam penyelesaian tugas ini dalam segi materi, motivasi, dan doa. Yang ketiga kepada teman-teman serta semua pihak yang terkait yang memberikan sebuah dorongan semangat sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa pada Laporan ini masih jauh dari kesempurnaan dari segi penulisan maupun isi dari materi, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya Laporan ini.
Semoga Laporan ini bisa memberikan informasi dan bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.
 

Tegal, 03 Juni 2016

Penulis

 

 

Zakaria Yahya

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

PRAKATA  …………………………………………………………………………………….. ii

DAFTAR ISI  ………………………………………………………………………………….. iii

BAB I PENDAHULUAN  ………………………………………………………………… 1

  1. Latar Belakang ………………………………………………………………… 1
  2. Rumusan Masalah …………………………………………………………….. 1
  3. Tujuan ……………………………………………………………………………. 1

BAB II GAMBARAN UMUM SMP N 5 ADIWERNA  ……………………… 2

  1. Tujuan Pendidikan SMP…………………………………………………….. 2
  2. Profil Sekolah …………………………………………………………………… 2
  3. Tujuan Sekolah ………………………………………………………………… 4
  4. Struktur Diagram dan TUPOKSI ……………………………………….. 4

BAB III HASIL OBSERVASI  ……………………………………………………….. 15

  1. Kepala Sekolah ……………………………………………………………… 15
  2. Kurikulum …………………………………………………………………….. 16
  3. Kesiswaan ……………………………………………………………………… 17
  4. HUSEMAS …………………………………………………………………… 18

BAB IV PENUTUP ………………………………………………………………………… 20

  1. Kesimpulan …………………………………………………………………….. 20
  2. Lampiran ………………………………………………………………………… 21

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam proses peningkatan kualitas sumber daya manusia dan merupakan suatu proses yang terintegrasi dengan proses peningkatan kualitas sumber daya manusia itu sendiri. Menyadari pentingnya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka setiap sekolah mempunyai visi dan misi sebagai pencapaian target pendidikan. Dalam hal ini kami melakukan observasi di SMP 5 Adiwerna guna mengetahui perkembangan tentang pendidikan di sekolah tersebut.

 

  1. RUMUSAN MASALAH
  2. Bagaimana Gambaran Umum SMP N 5 Adiwerna
  3. Bagaimana manajemen kalender pendidikan dan standar ketuntasan belajar minimal (SKBM) SMP N 5 Adiwerna
  4. Bagaimana struktur diagram dan tugas pokok serta fungsi (TUPOKSI) di SMP N 5 Adiwerna
  5. Bagaimana struktur organisasi di SMP N 5 Adiwerna
  6. Bagaimana kurikulum di SMP N 5 Adiwerna

 

  1. Tujuan
  2. Melengkapi tugas mata kuliah Satuan Layanan Pendidikan
  3. Bisa mengetahui keadaan sekolah di SMP 5 Adiwerna
  4. Mengetahui tentang kurikulum yang ada di sekolah SMP 5 Adiwerna
  5. Mengetahui tentang kualitas di sekolah SMP 5 Adiwerna

 

 

 

 

 

 

BAB II

GAMBARAN UMUM SMP N 5 ADIWERNA

 

  1. Tujuan Pendidikan Sekolah Menengah Pertama

Standar kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar bertujuan untuk meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut.

 

  1. Profil Sekolah
  2. Nama sekolah : SMP NEGERI 5 ADIWERNA
  3. NSS / NPSN : 201032811001 / 20325330
  4. Alamat : Jalan Raya Selatan Adiwerna
  5. Telp : ( 0283 ) 443158
  6. Website : –
  7. Email sekolah : smpn5adw@gmail.com
  8. Tahun berdiri : 1965
  9. Luas lahan : 12.590 m2
  10. Visi sekolah : Terwujudnya sekolah bermutu yang berimtak dan beriptek serta

Berwawasan lingkungan hidup.

  1. Misi sekolah                : 1.  Menyelenggarakan kegiatan proses belajar mengajar yang efektif berbasis karakter dan lingkungan.
  2. Mengupayakan pemenuhan perangkat proses belajar mengajar yang berkarakter dan berbasis lingkungan.
  3. Menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler secara terprogram.
  4. Mengembangkan nilai-nilai karakter bangsa yang dijunjung tinggi sebagai perilaku dalam kehidupan di sekolah.
  5. Memupuk kesadaran pengalaman ajaran agamanya dalam kehidupan sehari-hari
  6. Membudayakan nilai-nilai ajaran agama di sekolah.
  7. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk seluruh warga sekolah
  8. Mewujudkan warga sekolah yang bertanggung jawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
  9. Mewujudkan lingkungan sekolah yang hijau dan bersih.
  10. 11. Nama kepala sekolah : MARWAN, S.Pd., M.MPd
  11. 12. Jumlah guru semua :            47 orang          L = 25 orang   P = 22 orang

D3 = 2 orang S1 = 42 orang  S2 = 3 orang

  1. 13. Jumlah staf TU : 18 orang           L = 10 orang P = 8 orang
  2. 14. Jumlah siswa :Kelas 7 = 304 anak  L = 151 anak  P = 153 anak  Rombel = 9

Kelas 8 = 316 anak  L = 144 anak  P = 172 anak  Rombel = 9

Kelas 9 = 308 anak  L = 154 anak  P = 154 anak  Rombel = 9

Jumlah                         = 928 anak  L = 449 anak  P = 479 anak  Rombel = 27

 

  1. 15. SaranaPrasarana yang dimiliki :
  2. Ruang kelas                 : 27 lokal                     m. Ruang kesenian      : 1 lokal
  3. Ruang guru                 :   1 lokal                     n.  Ruang aula             : –
  4. Ruang kepala sekolah :   1 lokal                     o.  Ruang OSIS           : 1 lokal
  5. Ruang Lab.IPA           :   1 lokal                     p.  Ruang fotocopy     : 1 lokal
  6. Ruang Lab.Kom         :   1 lokal                     q.  Ruang bengkel       : 1 lokal
  7. Ruang perpus              :   1 lokal                     r. Rumah penjaga        : 1 lokal
  8. Ruang TU                   :   1 lokal                     s. Ruang kop.karyawan: 1 lokal
  9. Ruang UKS                :   1 lokal                     t. Ruang gudang         : 1 lokal
  10. Ruang Kopsis              :   1 lokal                     u.Ruang wakasek        : 1 lokal
  11. Ruang BK                   :   1 lokal                     v. Ruangganti OR       : 1 lokal
  12. Ruang Mushala           :   1 lokal                     w.Ruang peralatan OR: 1 lokal
  13. Ruang Multimedia      :   1 lokal                     x.Ruang pramuka        : 1 lokal
  14. 16. Sarana lain yang dipunyai                   :
  15. Tempat parkir sepeda siswa
  16. Tempat parkir sepeda motor guru
  17. Tempat parker sepeda motor TU
  18. WC siswa
  19. WC guru
  20. WC karyawan/TU
  21. WC kepala sekolah
Dipublikasi di Tak Berkategori | 3 Komentar

Pengertian Psikoanalisis

pp-konsep-dasar-pendekatan-psikoanalisis-dalam-bk-2-638

Psikoanalisis adalah suatu sistem pendekatan dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan neurotik. Psikoanalisi memandang jiwa manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yangmenimbulkan konflik.

  1. Hakikat Manusia

Sigmund Freud memandang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministik, mekanistik, dan reduksionistik. Menurut Freud manusia dideterminasi oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi-motivasi tak sadar, kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan biologis dan naluriah, dan oleh peristiwa psikoseksual yang terjadi selama lima-enam tahun pertama dalam kehidupan. Menurutnya, tingkah laku dideterminasi oleh energi psikis yaitu id, ego, dan superego. Ia juga melihat tingkah laku sebagai sesuatu yang dinamis dengan transformasi dan pertukaran energi di dalam kepribadiannya.

  1. Perkembangan Perilaku
  2. Struktur Kepribadian
  • Id

Id dalah sistem kepribadian yang orisinil. Kepribadian setiap orang hanya terdiri dari Id ketika dilahirkan. Id merupakan tempat bersemayam naluri-naluri, kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bekerja menggunakan prinsip kesenangan.

  • Ego

Ego adalah eksekutif dari kepribadian yang memerintah, mengendalikan, dan mengatur. Ego adalah tempat bersemayam intelegensi dan rasionalitas yang mengawasi dan mengendalikan impuls-impuls buta dari Id. Ego bekerja menggunakan prinsip kenyataan.

  • Superego

Super ego adalah cabang moral atau hukum dari kepribadian. Superego adalah kode moral individu yang urusan utamanya adalah apakah suatu tindakan baik atau buruk, benar atau salah. Super ego bekerja menggunakan prinsip conscience dan ego ideal.


  1. Perkembangan Kepribadian

   Menurut Sigmund Freud perkembangan psikoseksual ditandai dengan beberapa tahapan dengan zona kesenangan yang dominan pada waktu tertentu:

  • Tahun Pertama Kehidupan: Fase Oral

Pada fase ini mulut merupakan zona utama kesenangan dan kepuasan dasar didapat saat menggigit dan menyedot.

  • Usia Satu Sampai Tiga Tahun: Fase Anal

Pada fase ini kepuasan dirasakan saat menahan maupun buang air besar.

  • Usia Tiga Sampai Lima Tahun: Fase Falik

Pada fase ini zona kesenangan terletak di organ seks, baik pria maupun wanita harus berupaya melalui hasrat seksual.

  • Usia Lima Tahun Sampai Masa Puber: Fase Laten

Pada fase ini energi difokuskan pada aktivitas berpasangan dan penguasaan pembelajaran kognitif, serta keahlian fisik secara pribadi.

  • Masa Puber: Fase Genital

Pada fase ini jikalau telah berjalan dengan baik, maka masing-masing gender merasa lebih tertarik satu sama lain dan muncul pola interaksi heteroseksual yang normal.

  1. Pribadi Sehat dan Bermasalah
  2. Pribadi Sehat

Memiliki mekanisme pertahanan yang baik. Maksudnya pribadi yang bisa mengorganisir struktur kepribadiannya dengan baik dan bisa menyelaraskan antara id, ego, dan superegonya. Dalam hal ini individu tidak mengalami pengalaman frustasi yang berlebihan dan Ego bertindak secara rasional dalam mengambil tindakan-tindakan untuk mengatasi kecemasan yang muncul.

  1. Pribadi Bermasalah

Memiliki mekanisme pertahanan yang buruk. Maksudnya pribadi yang tidak bisa mengorganisir struktur kepribadiannya dengan baik dan tidak bisa menyelaraskan antara id, ego, dan superegonya. Ego bisa saja membiarkan dorongan-dorongan atau menekan perasaan-perasaan seksual dengan melakukan tindakan yang irasional dalam menghadapi kecemasan.

  1. Mekanisme Pengubahan
  2. Tahap-tahap Konseling

Tidak ada seperangkat praktik dalam psikodinamika yang disepakati bersama. Namun sesuai dengan tujuan konseling ini membantu konseli memahamai dorongan-dorongan ketidaksadaran ke kesadaran dan mengembangkan ego agar berkembang lebih baik, dalam hal ini ada beberapa isu penting dalam praktik konseling:

  • Asesmen dilakukan oleh konselor agar memahami sejauhmana kemampuan konseli dalam merefleksikan diri dan membangun hubungan dengan konselor, sehingga konseling bisa dilakukan.
  • Menegakkan aturan dan batasan yang jelas pada awal dan akhir sesi, keajekan pertemuan, jeda libur dan absen, memberikan latar belakang, dimana manipulasi atau upaya konseli untuk mengendalikan bisa dilihat dan selanjutnya dieksplorasi bersama konseli.
  • Pentingnya wawasan konseli terhadap ekspresi emosi yang dirasakan sebagai bentuk katarsis konseli.
  • Konseli seringkali akan mengulang perilakunya, pikirannya dan perasaannya di depan konselor yang dipandang sebagai bagian dari hubungan masa lalu. Oleh karenanya interpretasi transferensi oleh konselor bisa menyatukan sudut setiga pengalaman (orangtua atau masa lalu yang jauh, orang lain atau masa lalu yang tak terlalu jauh dan konselor atau saat ini atau transferensi), sehingga memberi wawasan pada pola perasaan atau perilakunya.
  • Pemeranan, dimana konseli tidak mampu mengatakan sesuatu, namun merasakan kebutuhan untuk memerankan perasaan, dapat dilihat sebagai cara agar ia tidak perlu bicara.
  • Fokus kerja konseling ada yang mengatakan penting dan tidak peting.
  • Ketika konseli merasakan perasaan negatif yang sangat kuat terhadap konselor, seringkali ada hasrat yang lebih besar di pihak konseli untuk meninggalkan sesi konseling. Dalam hal ini sikap konselor tidak boleh bersikap defensif, namun sebaliknya harus membantu konseli untuk memahami perasaan yang sedang melingkupi.
  1. Teknik-teknik Konseling
  • Penggunaan hubungan sistematik antara klien dan konselor

Konselor dan terapis psikoanalisa cenderung untuk bertindak alami terhadap klien mereka. Alasannya adalah para konselor sedang berusaha untuk mempresentasikan diri mereka sebagai ”layar kosong”, tempat klien dapat memproyeksikan fantasinya atau asumsi yang terpendam berkenaan dengan hubungan yang amat dekat dengan dirinya. Dengan menjadi netral dan tidak terikat, maka terapis dapat meyakinkan bahwa perasan klien terhadap dirinya bukan akibat apa yang dilakukannya. Proses ini disebut pemindahan (transfered) dan merupakan alat yang sangat berguna dalam terapi psikoanalisa.

  • Melakukan identifikasi dan analisis terhadap penolakan dan pertahanan

Ketika klien membicarakan permasalahannya terapis mungkin bisa mencatat bahwa si klien mengelak, memotong, atau mempertahankan diri dari perasaan atau fakta tertentu. Freud memandang penting untuk mengetahui sumber penolakan tersebut, dan kondisi tersebut akan menarik perhatian klien apabila terjadi terus menerus.

  • Asosiasi bebas atau ”katakan apapun yang muncul dalam pikiran”

Tujuannya adalah untuk membantu klien membicarakan dirinya sendiri dengan cara yang cenderung tidak terpengaruhi oleh mekanisme pertahanan diri.

  • Menganalisis mimpi dan fantasi

Tujuannya adalah untuk menguji materi yang muncul dari level kepribadian seseorang yang lebih dalam dan lepas dari pertahanan dirinya.

  • Interpretasi

Para konselor psikoanalitik akan menggunakan proses yang digambarkan di atas, yakni transference, mimpi, asosiasi bebas, dan lain-lain untuk mengumpulkan materi guna melakukan interpretasi. Melalui penafsiran mimpi, kenangan, dan transference, seorang konselor berusaha membantu pasiennya utnuk memahami akar permasalahn yang dihadapinya dan kemudian mendapatkan kontrol yang lebih besar terhadap permasalahan tersebut serta lebih banyak kebebasan untuk melakukan tindakan yang berbeda.

  • Beragam teknik lain

Ketika berhadapan dengan anak-anak bukanlah suatu hal yang realistis untuk mengharapkan mereka mampu menuangkan konflik dalam diri mereka ke dalam kata-kata. Sebagai gantinya para analisis anak menggunakan mainan dan permainan untuk memungkinkan anak mengeksternalisasi ketakutan dan kekhawatirannya. Beberapa orang terapis yang menangani orang dewasa juga menemukan hasil yang menggembirakan dengan menggunakan teknik ekspresif seperti seni, mematung, dan membuat puisi. Teknik proyeksi seperti Thematic Apperception Test (TAT) juga dapat menghasilkan hal yang sama. Dan pada akhirnya, para terapi psikodinamik biasanya mendorong para klien untuk menulis catatan harian atau autobiografi sebagai cara untuk mengeksplorasi kondisi masa lalu dan masa sekarang mereka.

Gambar | Posted on by | Tag , | 2 Komentar

Pengertian,Tujuan dan Fungsi BK (Bimbingan Konseling)

logo-konseling1Secara Etimologi berasal dari bahasa Latin “consilium “artinya “dengan” atau bersama” yang dirangkai dengan “menerima atau “memahami” . Sedangkan dalam Bahasa Anglo Saxon istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti”menyerahkan” atau “menyampaikan”

Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketige hal tersebut. (Berdnard & Fullmer ,1969)

Pengertian Konseling menurut ahli adalah:

Rumusan (Pepinsky & Pepinsky,dalam Shertzer & Stone,1974)

1. Konseling adalah suatu proses interaksi antara dua orang individu,masing-masing disebut konselor dan klien.

2. Dilakukan dalam suasana yang profesional Bertujuan dan berfungsi sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien.

Rumusan (Smith,dalam Shertzer & Stone,1974)

1. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan

2. Bantuan diberikan dengan menginterprestasikan fakta-fakta atau data,baik mengenai individu yang dibimbing sendiri maupun lingkungannya,khususnya menyangkut pilihan-pilihan,dan rencana-rencana yang dibuat.

Rumusan (Division of Conseling Psychologi)

1. Konseling merupakan proses pemberian bantuan

2. Bantuan diberikan kepada individu-individu yang sedang mengalami hambatan atau gangguan dalam proses perkembangan.

Rumusan (Mc. Daniel,1956)

1. Konseling merupakan rangkaian pertemuan antara konselor dengan klien.

2. Dalam pertemuan itu konselor membantu klien mengatasi kesulitan-kesulitanyang dihadapi.

3. Tujuan pemberian bantuan itu adalah agar klien dapat menyesuaiaknnya dirinya,baik dengan diri maupun dengan lingkungan.

 Berdasarkan Rumusan diatas maka yang dimaksud dengan Konseling adalah:

“Proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara Konseling oleh seorang ahli (disebut Konselor) kepada individu yang sedang mengalami masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dialami oleh klien.

Pengertian Konseling
Menurut British Association of Counselling (1984) yang dikutip oleh Mappiare (2004) konseling merupakan suatu proses bekerja dengan orang banyak, dalam suatu hubungan yang bersifat pengembangan diri, dukungan terhadap krisis, psikoterapis, bimbingan atau pemecahan masalah.
Menurut Burk dan Stefflre (1979) yang dikutip Latipun (2001) konseling mengindikasikan hubungan profesional antara konselor terlatih dengan klien, hubungan yang terbentuk biasanya bersifat individu ke individu, kadang juga melibatkan lebih dari satu orang suatu misal keluarga klien. Konseling didesain untuk menolong klien dalam memahami dan menjelaskan pandangan mereka terhadap suatu masalah yang sedang mereka hadapi melalui pemecahan masalah dan pemahaman karakter dan perilaku klien.
Menurut Pietrofesa, Leonard dan Hoose (1978) yang dikutip oleh Mappiare (2004) konseling merupakan suatu proses dengan adanya seseorang yang dipersiapkan secara profesional untuk membantu orang lain dalam pemahaman diri pembuatan keputusan dan pemecahan masalah dari hati kehati antar manusia dan hasilnya tergantung pada kualitas hubungan.
Menurut Palmer dan McMahon (2000) yang dikutip oleh Mc leod (2004) konseling bukan hanya proses pembelajaran individu akan tetapi juga merupakan aktifitas sosial yang memiliki makna sosial. Orang sering kali menggunakan jasa konseling ketika berada di titik transisi, seperti dari anak menjadi orang dewasa, menikah ke perceraian, keinginan untuk berobat dan lain-lain. Konseling juga merupakan persetujuan kultural dalam artian cara untuk menumbuhkan kemampuan beradaptasi dengan institusi sosial.

Tujuan konseling berdasarkan penanganan oleh konselor dikemukakan oleh Shertzer dan Stone yang dikutip oleh Mc Leod (2004) dapat diperinci sebagai berikut:
1. Mencapai kesehatan mental yang positif
Apabila kesehatan mental tercapai maka individu memiliki integrasi, penyesuaian, dan identifikasi positif terhadap orang lain. Individu belajar menerima tanggung jawab, menjadi mandiri, dan mencapai integrasi tingkah laku.
2. Keefektifan individu
Seseorang diharapkan mempunyai pribadi yang dapat menyelaraskan diri dengan cita-cita, memanfaatkan waktu dan tenaga serta bersedia mengambil tanggung jawab ekonomi, psikologis, dan fisik.
3. Pembuatan keputusan
Konseling membantu individu mengkaji apa yang perlu dipilih, belajar membuat alternatif-alternatif pilihan, dan selanjutnya menentukan pilihan sehingga pada masa depan dapat membuat keputusan secara mandiri.
4. Perubahan tingkah laku

Fungsi Konseling

1.      Fungsi Pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang membantu peserta didik (siswa) agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan, dan norma agama). Berdasarkan pemahaman ini, siswa diharapkan mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal, dan menyesuaikan dirinya dengan lingkungan secara dinamis dan konstruktif.

2.      Fungsi Preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh peserta didik. Melalui fungsi ini, konselor memberikan bimbingan kepada siswa tentang cara menghindarkan diri dari perbuatan atau kegiatan yang membahayakan dirinya. Adapun teknik yang dapat digunakan adalah layanan orientasi, informasi, dan bimbingan kelompok. Beberapa masalah yang perlu diinformasikan kepada para siswa dalam rangka mencegah terjadinya tingkah laku yang tidak diharapkan, diantaranya : bahayanya minuman keras, merokok, penyalahgunaan obat-obatan, drop out, dan pergaulan bebas (free sex).

3.      Fungsi Pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan siswa. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu siswa mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah layanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming), home room, dan karyawisata.

4.      Fungsi Perbaikan (Penyembuhan), yaitu fungsi bimbingan yang bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan erat dengan upaya pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir. Teknik yang dapat digunakan adalah konseling, dan remedial teaching.

5.      Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu siswa memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya. Dalam melaksanakan fungsi ini, konselor perlu bekerja sama dengan pendidik lainnya di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.

6.      Fungsi Adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala Sekolah/Madrasah dan staf,  konselor, dan guru  untuk menyesuaikan  program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa (siswa). Dengan menggunakan informasi yang memadai mengenai siswa, pembimbing/konselor dapat membantu para guru dalam memperlakukan siswa secara tepat, baik dalam memilih dan menyusun materi Sekolah/Madrasah, memilih metode dan proses pembelajaran, maupun menyusun bahan pelajaran sesuai dengan kemampuan dan kecepatan  siswa.

7.      Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu siswa (siswa) agar dapat menyesuaikan diri dengan diri dan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif

Gambar | Posted on by | Tag , | 1 Komentar

Gambaran Modul Guru Pembelajar Bimbingan dan Konseling

Tampilan blog

Penasaran apa yang akan kita pelajari saat pelatihan nanti, baik untuk pelatihan moda tatap muka, moda daring (online) dan moda kombinasi (campuran tatap muka dan daring). Di bawah ini saya sajikan gambaran materi yang akan disampaikan Instruktur Nasional ( IN ) dalam Pelatihan atau kursus Guru Pembelajar (GP ) khususnya bagi Guru Bimbingan dan Konseling SMP/SMA/SMK.

Modul yang disajikan dalam Pelatihan GP nanti berjumlah 10 modul, masing-masing modul terdiri dua kelompok kompetensi yakni Pedagogik dan Profesional. Sebenarnya modul yang sekarang hampir sama dengan modul-modul sebelumnya yang berjumlah 10 modul, namun modul yang sekarang lebih lengkap. Modul belum bisa saya share di blog ini karena Pelatihan Instruktur Nasional/Mentor  Guru Pembelajar Bimbingan dan Konseling masih berlangsung.

Kunjungi halaman Buku dan Modul BK di blog ini untuk memperoleh 10 modul guru pembelajar secara gratis.Unduh DI SINI

Materi Modul Kelompok Kompetensi Pedagodik antara lain: Teori dan Praksis Pendidikan, Perilaku Manusia Dalam Bimbingan dan Konseling, Kaidah Perkembangan Fisik dan Psikologis, Kaidah Kepribadian, Individualitas & Perbedaan Konseli, Kaidah Belajar Dalam Bimbingan dan Konseling, Kaidah-kaidah Keberbakatan, Aplikasi Kesehatan Mental, Esensi Pelayanan BK Pada Jalur Pendidikan, Esensi Pelayanan BK Pada Jenjang Pendidikan, Esensi Pelayanan BK Pada Jenis Pendidikan.

Materi Modul Kelompok Kompetensi Profesional anatara lain: Konsep dan Praksis asesmen, KerangkaTeoritik dan Praksis BK, Program Bimbingan dan Konseling, Implementasi Pelayanan BK Di Sekolah, Keterampilan Dasar dan Teknik Konseling, Implementasi Teori Konseling, Penilaian Dalam Bimbingan dan Konseling, Kesadaran dan Komitmen Terhadap Etika Profesional, Rancangan dan Pelaksanaan Penelitian Tindakan BK, Penyusunan Laporan dan Pemanfaatan Hasil Penelitian.

Lebih jelasnya bisa lihat tabel di bawah ini tentang Kelompok Kompetensi Guru Pembelajar Bimbingan dan Konseling SMP/SMA/SMK

Modul Kelompok Kompetensi Materi
A 1.Pedagogik : Teori dan Praksis Pendidikan
2.Profesional : Konsep dan Praksis asesmen
B 1.Pedagogik : Perilaku Manusia Dalam Bimbingan dan Konseling
2.Profesional : KerangkaTeoritik dan Praksis BK
C 1.Pedagogik : Kaidah Perkembangan Fisik dan Psikologis
2.Profesional : Program Bimbingan dan Konseling
D 1.Pedagogik : Kaidah Kepribadian, Individualitas & Perbedaan Konseli
2.Profesional : Implementasi Pelayanan BK Di Sekolah
E 1.Pedagogik : Kaidah Belajar Dalam Bimbingan dan Konseling
2.Profesional : Keterampilan Dasar dan Teknik Konseling
F 1.Pedagogik : Kaidah-kaidah Keberbakatan
2.Profesional : Implementasi Teori Konseling
G 1.Pedagogik : Aplikasi Kesehatan Mental
2.Profesional : Penilaian Dalam Bimbingan dan Konseling
H 1.Pedagogik : Esensi Pelayanan BK Pada Jalur Pendidikan
2.Profesional : Kesadaran dan Komitmen Terhadap Etika Profesional
I 1.Pedagogik : Esensi Pelayanan BK Pada Jenjang Pendidikan
2.Profesional : Rancangan dan Pelaksanaan Penelitian Tindakan BK
J 1.Pedagogik : Esensi Pelayanan BK Pada Jenis Pendidikan
2.Profesional : Penyusunan Laporan dan Pemanfaatan Hasil Penelitian

Dipublikasi di Diklat Guru, Kabar terbaru, Modul | Tag , | 4 Komentar